Epic Big Win
Berita Bola, Balapan, Basket, Gadget dan Travel

Pelari Kenya Masih Rajai Electric Jakarta Marathon 2019

21

JAKARTA – Sejumlah pelari asal Kenya masih tampil dominan dalam ajang Electric Jakarta Marathon 2019 dengan kategori Full Marathon (42 Km). Mereka berhasil keluar sebagai juara pada nomor Full Marathon (FM) terbuka baik kategori putra maupun putri.

Pada lima besar nomor full marathon open putra, Kenya menempatkan empat pelari. Geoffrey Kiprotich Birgen berhasil finish di urutan pertama dengan menorehkan waktu 2 jam 14 menit 23 detik. posisi kedua dicatatkan oleh Kenneth Kibet, juga pelari asal Kenya dengan catatan waktu 2 jam 16 menit 10 detik. Sedangka juara ketiga ditempati, Anouar El Ghouz . Dua pelari Kenya lainnya yang menempati urutan keempat dan kelima adalah James Cherutic Tallam, dan Bernard Mwendia Muthoni.

Perlu diketahui, Geofrey Kiprotich Birgen (Kenya) mengalahkan juara Electric Jakarta Marathon 2018, Bernard Mwendi Mutoni. Bahkan catatan Birgen lebih cepat dari yang diraih Mutoni pada tahun 2018, yakni 2 jam 19 menit 10 detik. Mutoni sendiri pada Jakarta Marathon 2019 finis di posisi kesepuluh.

Pada kategori Putri, posisi tiga besar ditempati pelari Kenya. Mereka adalah Peninah Jepkoech Kigen, Florence Jepkosgei Chepsoi, dan Margaret Wangui Njuguna. Pada Jakarta Marathon 2018, pelari asal Kenya juga menguasai nomor utama. Untuk putra berhasil menjadi juara, yakni Bernard Mwendia Muthoni dan putri Sheila Jepkosgei Chesang.

Electric Jakarta Marathon 2019 berlangsung tepat pukul 04:30 WIB di Plaza Utara Gelora Bung Karno (GBK). Ajang ini Dilepas oleh Sekretaris Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Kurleni Ukar M.Sc, Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga DKI Jakarta, Achmad Firdaus, Plt. Direktur Utama PT. PLN Persero, Sripeni Inten Cahyani dan Chairman Jakarta Marathon, Sapta Nirwandar.

Tercatat, sebanyak 16.500 peserta ikut Electric Jakarta Marathon 2019. Sebanyak 1.421 peserta adalah pelari asing yang datang dari berbagai negara di dunia, antara lain Malaysia, India, Amerika Serikat, Perancis, Belanda, Italia, Korea Selatan, Singapura, dan Jepang. Tahun ini, peserta ber-paspor- asing masih didominasi warga negara Jepang yang mencapai 512 pelari, meningkat sebanyak 85 orang dari tahun sebelumnya yang hanya 427 peserta.

Chairman Jakarta Marathon 2019 Sapta Nirwandar mengatakan, ajang balap lari tahun ini diminati banyak peserta termasuk peserta asing. Hal ini sesuai ekspektasi panitia yang memang mendesain ajang ini agar ramah bagi semua kalangan.

“Pelari profesional hingga anak-anak bisa berpartisipasi di sini. Terbuka bagi siapapun, event tahun ini diikuti oleh ribuan peserta dari berbagai negara. Penyelenggaraannya juga meriah dengan respon positif dari publik. Kami berharap destinasi pariwisata terangkat di event ini,” kata Sapta di Jakarta, Minggu (27/10/2019).

Sapta memaparkan, para peserta asing datang dari berbagai negara seperti Singapura, Jepang, Malaysia, India, dan Korea Selatan. Untuk komposisi di luar Asia diantaranya datang dari Prancis, Italia, Belanda, hingga Amerika Serikat. Semakin menarik, karena Jepang menjadi donatur peserta terbesar dengan 507 pelari. Angka ini naik 19% dari event serupa 2018.

“Slot peserta asing sangat kompetitif. Sebab, komposisinya bisa dikatakan 40 banding 60. Hal itu tentu bagus bagi pariwisata Jakarta. Secara umum, mereka memang tertarik dengan berbagai experience yang ada di sini. Atmosfer yang ditawarkan lomba dan keindahan Jakarta sangat unik,” ungkap Sapta.

Venue utama ajang lari tahunan ini di Plaza Utara Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, dengan edisi ke-7 menampilkan 5 kategori. Ada Full Marathon (21,195 Km), Half Marathon (21 Km), 10K (10 Km), 5K (5 Km), dan Maratoonz (1 Km). Untuk Maratoonz ini diperuntukkan khusus bagi anak-anak usia 5-10 tahun.

Selain bersaing di track lomba, seluruh peserta menikmati beragam rute unik yang ditawarkan melewati sudut-sudut yang selama ini kerap terlewat di Kota Jakarta. Setiap peserta bisa mengeksplorasi beragam sisi eksotis spot yang dilalui. Landmark yang dilalui adalah Kawasan Kota Tua, Fatahillah Square, Gereja Katedral, Masjid Istiqlal, dan beragam spot menarik lainnya.

Meski berada dalam kawasan indah, track lari tetap mengacu pada regulasi internasional. Rute lomba tersebut tetap dikalibrasi dan disertifikasi oleh Association of International Marathon and Distance Races (AIMS).