Epic Big Win
Berita Bola, Balapan, Basket, Gadget dan Travel

Dua Hal Ini Jadi Senjata Josh Taylor Taklukkan Regis Prograis

29

LONDON – Ketajaman pikiran dan kelincahan gerakan Josh Taylor bisa menjadi senjata pembunuh saat melawan Regis Prograis. Itu prediksi Ohara Davies mengenai bentrok Taylor, juara IBF dengan Prograis, jawara WBA dalam duel unifikasi Kelas Ringan Super di The O2 Arena, London, Inggris, pada 26 Oktober nanti.

Davies berani memprediksi Tartan Tornado –julukan Taylor– bakal mengalahkan Prograis karena dia pernah merasakan pukulannya. Dua tahun lalu, Davies kalah TKO dari Taylor dalam perebutan sabuk Kelas Ringan Super WBC di Braehead Arena, Glasgow, Skotlandia, pada 8 Juli 2017. Berikut wawancara dengan Davies Ohara mengenai peluang Taylor melawan Prograis.

Apakah ‘Tartan Tornado’ memiliki kelemahan?
Saya tidak berpikir dia bisa memukul sekeras Prograis. Tetapi dia punya ketajaman, kecepatan dan kemampuan, saya merasa seperti itu.

Bagaimana dia bisa mengalahkan Prograis?
Saya pikir dia punya pelatih hebat di sisinya dan saya pikir dia cerdas, tajam, dan cepat, dan dia bisa menjalani 12 ronde penuh dengan kecepatan itu.

Saya tidak yakin apakah Prograis dapat melakukan 12 ronde penuh dengan kecepatannya. Dari pertarungan yang saya lihat, dia mengalahkan lawan-lawannya dengan cepat, jadi bisakah dia bertahan ke ronde 10, ronde 11, ronde 12? Bisakah dia menjaga kecepatan yang sama? Itu pertanyaan yang saya belum yakin.

Taylor telah melakukannya berkali-kali. Sebanyak yang saya tidak ingin dia menang, saya harus jujur, dan saya merasa dia akan menang.

Apakah Anda pikir Prograis langsung menggebrak?

Saya pikir Prograis akan menunggu hingga pertengahan pertarungan dan mencoba untuk merangsek. Tapi saya tidak melihat pertarungan ini berakhir dengan KO. Saya melihat Taylor menang berdasarkan poin.

Apakah Anda melihat kembali pertarungan itu?
Saya merasa telah belajar banyak. Saya telah belajar bahwa saya tidak terkalahkan. Itu adalah pertarungan pertama yang saya kalah sebagai amatir dan pro. Saya tidak pernah kalah, jadi saya merasa tidak bisa kalah.