Epic Big Win
Berita Bola, Balapan, Basket, Gadget dan Travel

Harry Potter, Masih Jadi Idola Di Seluruh Dunia

22

Jakarta – Setelah 22 tahun diperkenalkan oleh J.K Rowling, Harry Potter masih jadi idola di seluruh dunia. Berbagai produk baru berbau Harry Potter bermunculan, bukunya pun masih saja jadi yang terlaris dijual.

Pada 27 Juni 1997, penulis asal Inggris J.K. Rowling memperkenalkan kisah Harry Potter, seorang bocah penyihir yang hidupnya dipenuhi berbagai petualangan menegangkan. Kisahnya hadir lewat sebuah buku berjudul “Harry Potter and The Philosopher Stone” (Harry Potter dan Batu Bertuah).

Ditemani dua sahabat sejatinya, Ron Weasley dan Hermione Granger, kisah “Harry Potter” di dunia sihir juga disertai banyak pesan moral mengenai arti penting kesetiaan, cinta, dan persahabatan.

Tak butuh waktu lama untuk dunia mencintai kisah petualangan Harry dan teman-temannya. Hingga Juni 2013, buku seri “Harry Potter” berhasil terjual sebanyak 450 juta kopi dan telah diterjemahkan ke dalam 73 bahasa.

Kesuksesan Harry Potter tak cuma sampai di situ. Berbagai taman hiburan, wahana, toko, hingga permainan bahkan aplikasi bertema “Harry Potter” terus bermunculan hingga saat ini.

Awalnya adalah adaptasi buku ke dalam film. Pada 14 November 2001, rumah produksi Warner Bros menayangkan film adaptasi buku “Harry Potter and The Philosopher Stone” dengan judul “Harry Potter and The Sorcerer’s Stone”.

Film yang disutradarai oleh Chris Colombus ini berhasil meraih kesuksesan yang tak kalah dengan kesuksesan bukunya dengan jumlah penonton fantastis. Hingga saat ini, sudah ada delapan film waralaba “Harry Potter” yang mampir di bioskop. Film-film di antaranya masuk jajaran 50 film terlaris sepanjang masa.

Lebih dari 22 tahun setelah buku “Harry Potter” pertama kali diterbitkan, euforia di hati para penggemarnya pun tak lantas mati. Potterhead, sebutan untuk para penggemar saga “Harry Potter”, merayakan ulang tahun kelahiran idolanya pada 2017 lalu.

Para penggemar merayakan dengan mendatangi stasiun kereta King’s Cross di London, tempat yang dikenal sebagai pintu masuk ke Sekolah Sihir Hogwarts.

Sementara di ranah game, pada April 2019 lalu diluncurkan game bertajuk “Harry Potter: Wizards Unite Beta” yang dikembangkan oleh Niantic dan WB Games San Francisco. Selain itu, ada setidaknya sebelas video game “Harry Potter”.

Tak cuma itu, taman hiburan bertema The Wizarding World of Harry Potter juga didirikan oleh Universal dan Warner Brothers di Universal Orlando Resort, Florida, pada 18 Juni 2010.

Di dalamnya terdapat berbagai atraksi dan tempat yang terinspirasi dari kisah “Harry Potter”, seperti rollercoaster Flight of the Hippogriff, toko tongkat sihir Ollivander, Toko Lelucon Zonko, hingga Three Broomstick yang terkenal dengan sajian butterbeer-nya.

Taman hiburan yang sama juga dibuka di Osaka, Jepang, pada 2014 lalu. Sementara di Batu, Malang, ada Diagon Alley, sebuah replika tempat fiktif yang ada dalam film “Harry Potter”, yang biasa dipakai para penyihir untuk belanja.

Lokasi Diagon Alley ini ada di Jatim Park 3, dan baru dibuka pertengahan tahun ini. Di sana, pengunjung bisa menikmati bangunan tiga dimensi, dan berpakaian ala murid-murid Hogwarts.

Fantasi dan Karakter Abu-Abu Bikin Cerita Menarik

Mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi dari Universitas Padjadjaran Firyal Shabirah mengaku telah menjadi Potterhead sejak duduk di bangku SD hingga saat ini.

Selain karena latar fantasi yang mengakomodir khayalan-khayalannya, alasan Firyal menyukai kisah “Harry Potter” ialah karena pembangunan karakter-karakternya kuat dan penuh nilai kehidupan.

“Karakter dalam kisah “Harry Potter” tidak dibuat sehitam-putih itu, misalnya hanya si jahat dan si baik. Semua karakter diceritakan memiliki latar belakang kehidupan yang menjadikannya tokoh-tokohnya seperti itu,” ujar Firyal.

Mengenai kisah dan tokoh-tokoh dalam Harry Potter yang seolah tak lekang oleh waktu, Firyal menilai kekuatan fanbase dan pengembangan kisah “Harry Potter” menjadi penyebabnya.

“Fanbase “Harry Potter” sudah kuat sejak buku pertama sampai film terakhirnya keluar. Penulisnya juga sempat membuat buku-buku spin-off dari kisah “Harry Potter”. Ditambah lagi, mungkin belum belum ada pengganti kisah fantasi seperti “Harry Potter” ini,” jelasnya.