Epic Big Win
Berita Bola, Balapan, Basket, Gadget dan Travel

- Advertisement -

- Advertisement -

Pria Ini Merasa Mati Otak, Rupanya Kena Sindrom Kejiwaan Langka

1

ICNGroup – Graham (48) terdiagnosis sindrom langkabernama Cotard’s, yang membuatnya berpikir ia sedang mengalami mati otak. Kasusnya disampaikan pada jurnal CORTEX, yang disebut kondisinya timbul usai depresi parah yang membuatnya mencoba bunuh diri dengan menyetrum dirinya sendiri.

Ia mengakui bisa berpikir, mengingat, dan berinteraksi dengan orang lain. Namun ia merasa bahwa otaknya tak lagi hidup meski bagian tubuh lainnya tetap hidup.

Dikutip dari Fox News, sindrom Cotard’s merupakan Kondisi Kejiwaan Langka yang membuat pengidapnya menolak eksistensi tubuhnya atau bagian tubuhnya sendiri, menurut sebuah laporan kasus berbeda dalam Journal of Neurosciences in Rural Practice.

Dari banyak kasus sindrom ini yang terjadi, banyak pasien yang mengalami malnutrisi dan kelaparan. Reaksi ini biasanya terjadi karena banyak pasien yang berpikiran tak ada untungnya makan, tidur, atau melakukan aktivitas harian jika mereka tak lagi hidup, dan pada kasus Graham, ia merasa tenang jika berada di dekat pemakaman.

“(Hal itu) adalah hal terdekat yang kubisa dengan kematian,” katanya dan ia bisa berada di pemakaman cukup lama hingga polisi harus datang menjemputnya kembali ke rumah.

Ketika ia akhirnya mendapat bantuan medis, sebuah PET scan yang ia jalani menunjukkannya adanya aktivitas metabolik yang lebih rendah 20 persen daripada otak orang normal. Salah satu dokternya belum pernah melihat orang yang mampu berjalan dan berbicara dengan kondisi otak serendah itu, karena dampaknya setidaknya seperti orang tidur atau terbius.

Gambar pindaian tersebut bisa menjelaskan mengapa orang dengan sindrom Cotard’s merasa mereka tak lagi hidup. Otak secara tidak langsung dalam mode tidur sementara badan melakukan aktivitas dan bergerak. Graham terdiagnosis juga dengan depresi mayor dan beberapa kecemasan.

Penulis studi CORTEX menyimpulkan bahwa sebuah gangguan besar pada pikiran manusia berakar dari kerusakan besar di dalam otak, sehingga berdampak pada ‘inti kesadaran’ dirinya dan kejadian di sekitarnya. Menurut situs New Scientist, kini Graham bisa kembali hidup normal dengan bantuan penangangan dan pengobatan kejiwaan.